Ternyata Ini Sejarah Rokok Elektrik

Ternyata Ini Sejarah Rokok Elektrik

Rokok elektrik yang sedang trend saat ini ternyata memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Rokok elektrik atau biasa disebut dengan vape banyak diminati oleh masyarakat. Meskipun ada larangan untuk tidak konsumsi vape dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) namun, masyarakat tetap mengkonsumsinya. Anda telah mengetahui bahwa rokok elektrik telah dilarang, tetapi Anda juga harus mengetahui bagaimana sejarah rokok elektrik.

Mengetahui sejarah rokok elektrik dapat menambah pengetahuan mengenai produk tersebut. Nanti Anda bisa mengambil kesimpulan sendiri kenapa rokok elektrik tidak disarankan untuk dikonsumsi. Untuk mengetahui lebih jelasnya tentang sejarah rokok elektrik, Anda bisa melihat selengkapnya disini.

Sejarah Rokok Elektrik

Rokok elektrik memiliki sejarah perjalanan yang panjang. Selama perjalanannya, rokok elektrik terkenal suram karena banyak dilarang di berbagai negara termasuk Indonesia. Lantas bagaimana perjalanan sejarah rokok elektrik? Berikut merupakan cerita sejarahnya.

  • Tahun 1930

Pencipta rokok elektrik Joseph Robinson mengajukan hak paten rokok elektrik. Pengajuan hak paten dilakukan pada tahun 1927 namun, hak paten dikeluarkan setelah 3 tahun pengajuan yakni tahun 1930. Pemberian diberikan secara resmi melalui consumer Advocates for Smoke Free Alternative Assoc (CASAA)datasgp.

  • Tahun 1960

Sejarah rokok elektrik terus berlanjut di tahun 1960, seorang pencipta rokok elektrik Herbert A Gilbert menciptakan rokok elektrik model terbaru. Model yang dibuat sudah modern dan Gilbert mengajukan hak paten untuk produk ciptaannya. Gilbert sangat senang, karena dirinya mendapatkan izin hak tersebut pada tahun 1965. Meskipun telah mendapatkan izin, rokok elektrik Gilbert gagal dipasarkan.

  • Tahun 1979-1980 an

Awal tahun 1979, kerja sama dilakukan oleh Phil Ray dan Norman Jacobson untuk menciptakan rokok elektrik. Produknya telah jadi, sayangnya belum sempat mendapatkan hak paten mereka berdua mengalami kegagalan.

  • Tahun 1990

Pada tahun 1990 di pasaran banyak alat inhaler nikoten yang telah memiliki hak paten. Hak paten tersebut diberikan kepada pencipta rokok elektrik secara individu maupun perusahaan. Tahun 1998 Food and Drug Administration (FDA) menolak produk rokok elektrik agar tidak dipasarkan ke masyarakat. Alasannya yaitu rokok elektrik termasuk dalam alat untuk menghantarkan obat yang belum mendapatkan persetujuan kuat.

  • Tahun 2003 – 2008

Sejarah rokok elektronik berikutnya yaitu suksesnya Hon Lik, pencipta rokok elektronik dari Beijing. Hon Lik mampu mengembangkan rokok elektrik dan sukses di pasaran dengan nama “Ruyan” yang memiliki arti seperti asap.

  • Tahun 2006

Rokok elektrik mulai diperkenalkan ke Eropa tahun 2006. Ketika memasuki negara Eropa, rokok elektrik ditolak oleh beberapa negara seerti Hong Kong, Canada, Amerika Serikat, Yordania, Australia, Turki, dan masih banyak negara lainnya. Negara yang menolak rokok elektrik memiliki alasan kuat, yakni rokok mengandung lebih dri 4800 zat berbahaya. Tidak hanya berbahaya, kandungan zat rokok elektrik ada yang beracun sehingga dapat berbahaya bagi manusia. Oleh karena itu, banyak negara yang menolak rokok elektrik dipasarkan ke masyarakatnya. Negara mengambil keamanan supaya masyarakatnya tidak mengalami gangguan kesehatan yang serius akibat rokok elektrik.

Nah itulah sejarah rokok elektrik di dunia, sedangkan di Indonesia sendiri rokok elektrik mulai masuk ke pasar tahun 2012. Pemerintah melegalkan rokok elektrik sehingga banyak masyarakat yang mengkonsumsinya. Tetapi ada suatu kasus yaitu liquid vape, liquid yang digunakan ada yang mengandung narkoba. Demikian sejarah rokok elektrik yang penuh dengan kontroversi. Semoga Anda mendapat wawasan tentang sejarah rokok elektrik.

Rokok Elektronik Tanpa Asap Semakin Di Minati

Rokok Elektronik Tanpa Asap Semakin Di Minati

Merokok sudah menjadi kebiasaan terutama laki-laki, namun kadang kala merokok bisa menimbulkan tidak kenyamanan bagi sebagian orang yang tidak suka menghirup asap rokok. Mereka yang tidak merokok dan menghirup asap rokok sering di sebut perokok pasif, yang mana dampak negatifnya lebih besar di bandingkan orang yang merokok aktif. Merokok bisa meninggalkan noda di gigi bahkan menimbulkan bau yang tidak sedap. Maka, untuk alternatife banyak rokok elektronik tanpa asap yang bisa membantu mereka para perokok bisa merokok sepuasnya dengan tidak menganggu orang lain.

Apakah Rokok Elektronik Tanpa Asap Aman?

Inovasi rokok elektronik tanpa asap yang hadir sudah banyak peminatnya, data dari the Tobacco Vapor Electronic Cigarette Association menjelaskan penjualan rokok elektrik mengalami peningkatan pesan per tahunnya. Di tahun 2008 saja, 50.000 penjualan rokok elektrik tercatat di seluruh dunia, tetapi pada tahun 2012 penjualan mengalami menanjakan tajam hingga 3,5 juta di Amerika Serikat saja.

Profesor Psikologi kesehatan University College London, Robert West mengharapkan adanya rokok elektronik tanpa asap bisa mengurangi akibat buruk dari rokok tembakau yang sudah menewaskan banyak orang. Alasannya rokok tembakau yang biasanya di gunakan oleh masyarakat yag di hirup adalah asap dari hasil pembakaran, namun dengan menggunakan rokok elektrik yang dihirup adalah uapnya. 

Menurutnya, uap yang di hidup adalah hasil dari pada cairan dengan isi zat perasa, vegetable glycerin atau VG, propylene glycol atay PG, juga nikotin. Bedanya jika rokok tembakau menghasilkan asap yang di hirup dari pembakaran tembakau dengan campuran arsenic, karbon monoksida, tar, dan bahan kimia lain. Maka, ini alasannya rokok tembakau membawa dampak yang tidak sehat bagi tubuh ketika asapnya di hirup.

Namun, apakah rokok elektronik tanpa asap benar terjamin keamanan ketika di gunakan?, WHO secara resmi menyatakan bahw belum ada bukti konkrit yang di jadikan landasan kalau rokok elektrik benar-benar aman di gunakan. Sebab, belum ada penelitian secara menyeluruh berkaitan keamaan mengkonsumsi rokok elektrik. WHO menilai banyaknya produsen dari rokok elektrik tidak mampu menjelaskan secara resmi apa bahan yang di gunakan dalam cairan rokok itu.

Dilansir dari ccnindonesia.com ada beberapa studi yang melakukan penelitian tentang rokok elektrik dan hasilnya antara lain sebagai berikut:

  1. Di klaim rokok elektrik mengandung zat bahaya, misalkan Diethylene Glycol (DEG),Tobacco Specific Nitrosamines (TSNA), dan karbon monoksida.
  2. Menggunakan rokok elektrik pada waktu lama dapat meningkatkan kadar plasma nikotin dengan signifikan pada 5 menit dari penggunaannya.
  3. Rokok elektrik bisa meningkatkan kadar plasma karbon monoksida juga frekunensi nadi dengan signifikan sehingga bisa menganggu kesehatan tubuh.
  4. Mempunyai efek yang akut di paru-paru sama dengan merokok menggunakan rokok tembakau. Sebab, kadar nitrit oksida udara ekshalasi turun dengan signifikan, maka tahanan di jalan napas melonjak dengan signifikan,
  5. Bahaya lainnya menggunakan rokok elektronik bisa memberikan efek negative pada anak, sehingga mereka menganggap menggunakannya lebih sehat atau biasa saja.

Kenyataannya banyak masyarakat yang masih menggunkan rokok elektronik tanpa asap, bagi mereka merokok menggunakan rokok eletrik lebih aman dan tidak mengeluarkan asap layaknya rokok tembakau. Namun, tetap saja harus ada pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum menggunakan rokok eletrik. Sebab, sejatinya merokok bisa dilakukan oleh orang yang sudah dewasa, namun tetap anda sendiri yang bisa mengatur mana yang baik dan mana yang buruk untuk diri anda.

Perokok Yang Beralih Ke Vaping

Alasan kenapa perokok meninggalkan tembakau dan beralih ke vaping

Merokok tidak bisa di lepaskan oleh kebanyakan laki-laki, apalagi di Indonesia pengguna rokok mash tinggi. Bukan hanya dari kalangan tua, namun juga kalangan muda banyak yang sudah menggunakan rokok, sekarang ini banyak perokok yang beralih ke vaping.

Rokok tembakau biasanya banyak mengeluarkan asap yang bisa mengganggu orang lain, namun menggunakan rokok elektrik yang di hirup bukan asap melainkan uap. Ada banyak rasa yang bisa dipilih pada vaping sehingga pengguna bisa menentukan sendiri rasa apa yang ingin digunakan.

Alasan Perokok Yang Beralih Ke Vaping

Sekarang ini banyak perokok yang beralih ke vaping, bahkan bukan hanya mereka yang awalnya perokok tembakau namun banyak masyarakat yang tidak merokok juga tertarik menggunakan vape kerena aneka rasa yang di sediakan. Namun, status kelegalan vape di Indonesia masih disamakan dengan perokok aktif yang menggunakan tembakau. Dengan demikian, alasan perokok yang beralih ke vaping umumnya adalah :

  • Vape dan E-Cigarettes merupakan hal yang berbeda

Ternyata vape dan e-cigarattes tidak sama, keduanya punya perbedaan. E-cigarettes berbentuk hampir sama dengan rokok aktif dan di Indonesia penyebarannya tidak sebanyak vape.
Filter pada e-cigerettes mempunyai ragam rasa, namun rasanya tidak sebanyak yang ada di vape.  Sedangkan vape biasa di jual banyak di toko dengan jenis yang beda dan rasa pada vape lebih beragam.

  • Kandungan E-Juice Vape

Liquid vape menggunakan bahan utam gliserin asalnya dari sayuran. Gliserin sayuran ini tidak mampu berpengaruh terhadap rasa, namun berpengaruh terhadap banyaknya uap air di keluarkan vape.
Bahan lainnya propilen glikol dengan fungsi albuterol maupun inhaler asma. Albuterol berfungsi meluaskan saluran napas dengan demikian lebih aman proses pengisapan uap air pada vape. Bahan terakhir adalah nikotin dengan kandungan 0 hingga 12 mg, perbedaannya tidak seluruh liquid vape memiliki nikotin, namun rokok tembakau pasti semuanya nikotin.

  • Vape dipercaya membantu perokok aktif berhenti merokok

Studi yang di lakukan banyak hasil yang beda, namun dari studi longitudinal pemakai rokok elektik, di Addictive Behaviors Journal tertulis bajwa semua partsipan yang memakai vape, 72% diantaranya merupakan mantan perokok aktif dan 76% di antaranya menggunakan vape hampir setia hari.
Memang berhenti merokok bukan hal yang mudah dilakukan oleh setiap orang, apalagi bagi mereka yang sudah kecanduan. Namun penggunan vape ini dirasa lebih maksimal menghentikan kecanduan merokok aktif dengan cara perlahan.

Kementerian Kesehatan juga telah menjelaskan jumlah penduduk perokok aktif yang ada di Indonesia di dasarkan pada The Tobacco Atlas tahun 2015 menembus angka 70 juta jiwa. Mayoritas para perokok aktif yakni orang dewasa, bahkan perokok aktif yang usianya remaja juga anak-anak menembus 3,9 juta jiwa. Kasus semacam ini dijadikan alasan pemerintah merencanakan peningkatan harga rokok mencapai 50.000 setiap bungkusnya sebagai cara mengurangi jumlah perokok aktif yang ada di Indonesia.

Mengenai hal ini jelas banyak perokok yang beralih ke vaping, sebab harga yang di patok untuk rokok tembakau lebih mahal. Alasan ini juga memunculkan isu baru di industri rokok tembakau yang ada di Indonesia, sebab banyak yang beranggapan hadirnya vape menjadikan petani tembakau rugi karena penjualannya menurun.

Bahkan muncul berita tentang bahaya vape yang dapat meledak, vape berbahaya dan lainnya. Meski berbagai rumor hadir mengitari vape namun tetap banyak perokok yang beralih ke vaping, artinya minat masyarakat ke vape semakin tinggi sehingga mengindahkan hal-hal tersebut.

Peredaran Rokok Elektrik Tegas Di Tolak Dokter Indonesia

Peredaran Rokok Elektrik Tegas Di Tolak Dokter Indonesia

Sekarang ini masyarakat, terutama kalangan muda sudah tergila-gila dengan vape atau rokok elektrik. Peredaran rokok elektrik yang semakin menjamur dengan banyaknya pengguna yang suka dengan rokok elektrik, membuat organisasi medis juga perhimpunan dokter Indonesia mengeluarkan pernyataan bahwa secara tegas melarang peredaran rokok elektrik di Indonesia.

Peredaran Rokok Elektrik Di Indonesia

Sekarang ini jenis dan bentuk dari rokok elektrik banyak sehingga masyarakat bisa memilih sendiri mana yang ingin mereka gunakan. Rokok elektrik dalam perkembangannya, banyak digunakan oleh kalangan anak-anak juga remaja. Hal ini disebabkan banyaknya iklan, sehingga menjadikan midset mereka rokok elektrik tidak bahaya seperti rokok pada umumnya. Apalagi dengan pilihan aroma dan tidak mengeluarkan asap melainkan mengeluarkan uap ditambah kemasan yang menarik.

Peredaran rokok elektrik yang semakin menjamur di Indonesia, kenyataannya mempunyai bahaya lebih besar sebab di cairannya sudah dicampur dengan bahan kimia. Campuran ini adalah alasan bahan kimia yang bisa menyebabkan penyakit jantung, asma, paru-paru, juga menambah resiko kanker. Parahnya lagi andaikan di konsumsi di masa muda, kemungkinan bisa memperlambat perkembangan otak.

Hal lainnya, pemerintah dinilai telah gagal mengupayakan pengendalian peredaran rokok tembakau. Terbukti dengan data Riskesdas adanya remaja yang merokok bertambah menjadi 9,1% dnegan target pada RPJMP 2014-2019 mencapai 5,4%. Keadaan ini dikhawatirkan semakin memburuk mengingat perkembangan pemakai rokok elektrik juga mengandung nikotin.

Pernyataan peredaran rokok elektrik yang semakin naik, terutama pada kalangan anak muda juga di dukung oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Cut Putri Arianie, MHKes. Dilihat dari segi kesehatan, peredaran rokok elektrik yang digunakan tidak memberikan manfaat apapun bagi kesehatan.

Awal tahun 2020, Kemenkes mengupayakan menjalankan advokasi terhadap pihak terkait supaya mengurangi kasus kesehatan dengan penyebab rokok tembakau juga elektronik. Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Pembangunan dan Pembiayaan Kesehatan, Brigjen (Purn) dr Alexander K.Ginting, SpP,FCCP menegaskan bahwa meningkatnya jumlah perokok pemula yang ada di Indonesia telah ada di dalam tahap yang mengkhawatirkan.

Pernyataan lain tentang peredaran rokok elektrik juga diungkapkan oleh Dr. dr. Agus Dwi Susanto Sp.P(K), Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Menjelaskan, bahwa rokok tembakau juga eletrik diklaim bisa meningkatkan resiko terharap kanker juga jantung andaikan digunakan sejak dini atau mereka menggunakan rokok di masa anak-anak.

Peredaran rokok elektrik yang semakin meluas dengan banyaknya kalangan muda yang menggunakannya bisa menambah resiko infeksi peradangan. Pada publikasi internasional dijelaskan bukti bahwa pemakaian rokok elektrik semakin meningkatkan penyakit asma, terutama jika sudah di gunakan dalam waktu yang lama.

Beliau menyatakan bahwa, sekitar 70 persen pemakai rokok eletrik telah di adiksi juga ketagihan, hal ini menjadi bukti bahwa nikotin yang terkandung pada rokok elektrik tersebut sama bahayanya dengan nikotin di rokok tembakau.

Peredaran Rokok Elektrik yang di larang juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 berhubungan dengan Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 berhubungan dengan Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Produk Tembakau Bagi Kesehatn. Hal lainnya juga di sesuaikan dengan visi Presiden Joko Widodo yaitu sumber daya manusia unggul.

Mengenai pembahasan diatas jelas bahwa Peredaran Rokok Elektrik yang semakin besar di Indonesia di larang karena menurut berbagai organisasi kesehatan Indonesia rokok elektrik bisa membahayakan kesehatan penggunanya juga orang yang ikut menghirup uap atau asap secara tidak langsung, jadi rokok tembakau dengan rokok eletrik sama-sama membahayakan kesehatan.